Skip to main content

sesi curhat tengah malam

Entah kenapa dan mengapa kalau mengingat tulisan-tulisan ku di diary dulu, sering aku menulis di tengah malam. Seperti sekarang ini. Hanya ingin mengungkapkan isi hati saja, cuma itu.

Sekitar sebulan yang lalu, aku pernah mem-posting sebuah gambar dan menuliskan caption isi yang menceritakan 1 bagian kecil kehidupan ku di sini.( https://www.facebook.com/photo.php?fbid=526891380783390&set=a.126119184193947.21851.100003875991252&type=1&theater )
Isi caption itu ku tuliskan sebenarnya untuk menjaga hubungan baik dengan seorang teman di kota asal ku dan ingin berbagi cerita seta berbagi kabar. Tapi mungkin karena kesibukan dan lain sebaginya dia baru merespon posting-an itu sebulan kemudian dan aku cukup merasa senang berbagi kabar dengan teman yang sudah cukup lama tidak bertemu. Percakapan berlanjut di kontak LINE. Mungkin untuk menjaga privasi kami agar dapat bercerita dengan lebih leluasa. Kalau aku secara pribadi berfikiran akan ada percakapan yang sangat panjang dan seru, tapi menurut ku jauh dari ekspektasi. Dia kembali menyinggung masalah perasaan dan aku merasa gagal dalam berteman.

Aku bukan orang yang mudah berteman dekat dengan siapa saja. Mempunyai kenalan di mana saja dan siapa saja dengan berteman dekat itu berbeda sekali. Bisa ngobrol panjang lebar dengan seorang teman, apalagi lawan jenis, itu adalah precious moment. Karena pastinya bukan aku yang membuka pembicaraan. Itu bukan kebisaan ku. Aku sangat mengahargai setiap siapa saja yang ingin berteman dengan ku dan aku juga sebenarnya sangat ingin punya teman dekat dimana pun, karena itu pasti sangat menyenangkan. Tapi sekali lagi ku tegaskan, itu bukan hal mudah untuk ku.

Kembali dengan teman yang ku maksud. Dia seorang teman di tempat pelayanan ku di Medan, walaupun kami melayani di waktu dan departemen yang berbeda tapi kami pernah beberapa kali bertemu bersama. Umurnya 4 tahun di bawahku tapi untuk lelaki seusianya, dia cukup dewasa dalam berfikir. Menurutku itu karena ayahnya sering memberikan pemikiran-pemikiran yang sangat menantang untuk seorang pria. Secara pribadi aku sangat tertarik dengan itu karena aku tidak pernah mendapatkan pemikiran-pemikiran menarik dari ayahku. Aku sangat senang mendengarkan dia bercerita, mengungkapkan pendapat-pendapatnya, bertanya hal-hal yang cukup kritis dan memberikan pendapatnya tentang jawabanku.

Menurutnya, aku bukan tipe wanita yang cocok untuk dijadikan seorang pacar. Tapi lebih dari itu. Menjadi pendamping hidup, begitulah kira-kira pendapatnya. Di satu sisi, wanita mana sih yang gak berbunga-bunga hatinya dinilai seperti itu oleh lelaki yang sebenarnya juga dia kagumi, WOW! Tapi di sisi lain, banyak pertimbangan yang berputar di kepala ini. Kalau pendapat psikologis menyatakan bahwa wanita cenderung menggunakan perasaan untuk mengambil sebuah keputusan dan pria sebaliknya. Maka aku sepertinya lebih cenderung mempunyai karakter seperti pria. Perasaan bukanlah hal terpenting menurut ku untuk dituruti dan dijadikan final decision karena masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Paranoid? Mungkinlah, tapi aku lebih menakutkan hal-hal yang mungkin akan terjadi kepada lawan bicaraku. Menurutku, kalau aku melakukan kesalah dalam mengambil keputusan, maka aku tahu akan ada orang lain yang akan merasa dirugikan. Dan jika aku tidak dapat mempunyai langkah untuk menyelesaikannya/memperbaikinya, maka aku sangat merasa gagal!!

Malam ini, ketika kami berbincang melalui LINE dia seperti kecewa karena aku menganggap lelucon kata-kata dan harapannya untuk bisa bersama dengan ku. Aku merasa pernah mengalami hal ini. Dulu. Ketika seseorang mengatakan bahwa dia begini begitu dan begini kepada diriku (aku hanya menjawab "ya"). Dan meminta untuk jangan pergi (kali ini aku tidak bisa menjawab apa pun). Aku pikir, ini terlalu memaksa untuk sebuah permulaan. Entahlah, apa aku yang kurang memakai perasaanku atau bagaimana. Sampai saat ini, aku hanya masih belum berani untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan hal paling penting dalam hidup ku di masa depan. Dengan siapa kah aku di masa tua ku, siapakah yang akan ku dampingi, dan siapakah yang akan menemaniku? Aku merasa sangat tidak berarti apa-apa ketika dipertanyakan dengan hal itu. 

Dulu pembimbing rohani ku berkata," ada yang benar-benar mendoakan mu dan kau mempertahankan yang tidak menghargaimu!" dan sekarang aku sudah melepaskan kedua-duanya. Sekarang bagaimana? Aku tidak tahu. Aku hanya belum bisa berdiri dengan baik jika pertanyaan masalah pendamping hidup itu datang kepada ku. Aku bukannya tidak dapat memilih, bahkan untuk melihat para kandidat itu pun aku tidak bisa. Semuanya seperti berbayang. Bahkan gelap. Aku senang untuk bisa berbagi dengan mereka yang sudah mengenal Tuhan dan melihat aku sebagai (mungkin) jawaban doa mereka. Hanya saja aku belum berani meminta kepada Tuhan untuk membuka mata ku melihat mereka sebagai jawaban doa yang bahkan belum ku utara kan. Aku masih ingin terus mempersiapkan diri ku untuk menjadi penolong seseorang yang akan menemani ku nanti. 

Aku ingin benar-benar yakin bisa mempunyai kekuatan hati sebesar yang mama punya ketika sendiri membesarkan aku, mempunyai kekuatan iman yang luar biasa seperti yang dipunya mami ketika ujian silih berganti dalam rumah tangga mereka, dan mempunyai kebijaksanaan seperti opung boru yang sangat luar biasa. Tapi aku yakin, mereka mendapat itu dengan proses belajar dari pengalaman, waktu dan doa mereka yang luar biasa. Aku sangat merasa tertantang untuk bisa menjadi seperti mereka. Dan hingga saatnya nanti tidak ada kata menyesal.

Comments

Popular posts from this blog

Pesan Tersimpan Untukmu, Sang Pemimpin Masa Depan!

(ki-ka) Marco, Farrel, Mama Farrel, Papa Farrel Hai kamu yang begitu bersemangat menikmati hari bahagia beberapa tahun lalu merayakan pertambahan usia sang ibunda! Farrel Gunung Fabian Siregar, 12 Februari, 10 tahun silam. Yang dibawa dalam perut dari Gunung Sitolo, Nias tapi lahirnya di Medan (RS. St. Elizabeth). Kehadiran mu sungguh dinantikan oleh kelurga besar Op. Margaretha (Siregar/br. Napitupulu) saat itu sebagai salah satu penyambung marga Siregar Silali dan dengan kehadiran mu maka panggilan sang tetua pun berganti menjadi Op. Farrel Siregar br. Siregar. Begitu juga hari lahir mu sama persis dengan sang ayahanda, yang saat itu tidak menyaksikan kelahiran mu. Pertumbuhan mu yang begitu lucu, persis anak-anak bayi pada umumnya. Apalagi rambut mu yang botaknya dibelakang, hahaaa!! Gak rewel lagi, pokoknya pengertian banget deh! Aku begitu menikmati peran sekali lagi sebagi seorang parorot  dikala itu, setelah kehadiran Hans Borneo dan Rahel Laurin dari keluarga Hutagalun...
kapan pertama kali kita bertemu? aku lupa.. bahkan perkenalan-perkenalan awal kita pun aku tak tau, tapi hal yang paling ku ingat adalah bagaimana kau tidak canggung untuk bercanda denganku. aku yang sebenarnya sulit untuk dekat dengan orang baru, apalagi kau mendekati orang yang paling dekat denganku. kepadanya aku cerita, mengeluh bahkan menangis. mungkin dulu aku sempat cemburu. eh, iyah aku pernah cemburu kepada mu karna kau menarik banyak perhatian dari dia, sampai dia lupa menanyakan kabarku atau bahkan sekedar bertegur sampai aku memendam banyak rasa rindu padanya. tapi sepertinya dia berhasil mendekatkan ku padamu dan kita yang saling dekat. pada akhirnya, banyak pelajaran yang telah ku dapat dari mu dan darinya. 1. keteguhan hati atas jawaban doa dari Tuhan. hubungan kalian sempat terkendala karena apa yang kau punya tidak cukup meyakinkan orang tuanya bahwa kau adalah orang yang pantas. tapi dengan tekat kalian berdua, akhirnya berkat Tuhan nyatalah dan aku sangat terkes...

RESOLUSI 2016

https://www.youtube.com/watch?v=6DhI7wWfeEM&list=PLiz1cMHODgsfD-x85_Z_YLefd_nzB4His Well, itulah theme song malam ini. Seperti biasa menulisa sambil curhat tengah malam sangat menyenangkan, haha.. Sebelum masuk ke resolusi 2016, baik rasanya mendeskrpsikan rasa syukur atas 2015 yang sudah berlalu. Karena memang begitulah seharusnya :) 2015 aku bersyukur buat kebaikan Tuhan ketika Dia memberikan kesempatan untuk bisa mencicipi tinggal di Negara orang walau gak mudah pastinya. Banyak yang dikorbankan, banyak yang ditinggalkan bahkan yah perjuangan itu. Aku bersyukur Tuhan siapkan dan cukupkan semuanya hingga saat ini, walau kadang merasa seperti ada yang kurang tapi keadaan selalu mengajarkan ku untuk tetap bersyukur. Aku juga bersyukur untuk perasaan yang semakin hari semakin dipulihkan, semakin dibersihkan. aku pun bersyukur buat penyertaan Tuhan atas keluarga yang nan jauh disana, aku masih terus bersyukur karna Tuhan masih terus menyertai mereka seperti Tuhan menyertaiku. Ak...